Hidup di Negeri (1) Orang: Tahun Pertama
August 24th, 2006 by nadhirakhansaHidupku 5,5 tahun terakhir aku habiskan di Singapura. Negeri yg telah membuat aku jatuh cinta sejak pertama kali berkunjung. Aku melongo kekaguman *kampungan banget ya?* menyaksikan hiruk-pikuk nan tertib di Orchard Road, aku merasa nyaman menaiki kendaraan umum yg bersih & teratur, aku menikmati sekali langkah kaki orang Singapura yg nampak tergesa2 yg bagiku seolah menandakan produktivitas tinggi (bisa aja, padahal mungkin pada kebelet ke toilet ya?), aku merasa sangat sehat berada di megapolitan yg bersih. Ahhh…aku jatuh cinta.
Sedikit flashback, aku pertama kali ke Singapura thn 1997, bertiga dengan A’Bubun, suamiku, dan Dzaky, anak sulungku yg saat itu baru saja berulangtahun ke-3. Setelah menikmati tempat2 wisata & belanja, malam terakhir sebelum meninggalkan Singapura, saat menunggu taxi, aku berbisik ke telinga A’Bubun, "Aa, Wie ingin pindah kesini". Saat itu A’Bubun cuma nyengir, tampangnya persis tampang dia yg sering kegelian mendengar cerita mimpiku yg aneh2 saat tidur (OOT: mimpi anehku yg paling menggelikan adalah makan batagor sambil duduk berdampingan mesra dengan Keanu Reeves. Koq batagor gitu ya?). Rasanya saat itu pindah & bermukim di Singapura adalah mimpi lucu yg sulit terwujud kali ya?
Keinginanku untuk bermukim di Singapura akhirnya hilang bersama realita bahwa aku tinggal di Bandung, suamiku memang kerja di multinasional company, tapi basenya di Indonesia, kebetulan dia ditempatkan di Bandung, kota kami. Walau basenya di Bandung, tapi A’Bubun melanglangbuana terus dan anehnya nggak pernah ditugaskan ke Singapura.
Suatu hari, di penghujung thn 2000, A’Bubun mengajukan rencana boyongan ke negeri orang. Saat itu negara tujuan kami adalah Belanda, tepatnya kota Hilversum. Berbagai hal yg melintas di pikiran ttg Belanda, segala yg positif maupun yg negatif, tapi yg paling menonjol adalah "brrrr…kuat nggak ya nahan dinginnya suhu udara di sana?", mengingat aku alergi udara dingin. Udara dingin bisa membuat badanku bentol2, kalau bahasa kerennya kaligata kali ya? :p Begitu juga Dzaky, udara dingin bisa membuat tenggorokannya dibanjiri lendir sbg reaksi alergis.
Bulan Januari 2001 saat proses kepindahan ke Belanda sudah mencapai 80%, tiba2 A’Bubun yg akhirnya dapat assignment ke Singapura, mendapat tawaran yg sama menariknya seperti di Belanda, tapi kali ini di…Singapura! Tanpa berpikir dua kali, aku langsung minta A’Bubun untuk menerima tawaran itu. Bubye Hilversum! Aku ingat sekali apa komentar A’Bubun saat itu, "ini sih rejekinya Wiwie yg emang ingin tinggal di Singapura.Oke deh, demi istri tercinta…". Suit…suit…uhuy..!
Singkat kata, pertengahan Maret 2001 aku sudah jadi penduduk Singapura, tinggal di flat kawasan Chai Chee. Yang paling menarik dari tempat tinggal kami itu adalah blok apartemen kami tepat bersebelahan dengan kompleks perkantoran dimana kantor A’Bubun adalah salah satu perusahaan yg berkantor disitu, namanya Technopark@Chai Chee. Di seberang kompleks itu ada hawker center, seperti umumnya hawker center di sini, selalu dilengkapi dengan coffee shop, letaknya arah jam 2 dari flatku, jadi kalau aku berdiri di koridor, aku bisa melihat dengan cukup jelas coffee shop itu, bahkan orang2 yg makan disitu. Kalau pagi coffee shop itu dipenuhi dengan orang2 yg sarapan sebelum bekerja di Technopark@Chai Chee, siang dipenuhi dengan orang2 yg makan siang, sore hari juga tetap penuh dengan orang2 yg sama. Lucu campur kasihan sama A’Bubun, kalau dia kebetulan makan siang di coffee shop itu dan kebetulan juga Dzaky yg turun dari bis sekolah melihat, pasti akan memanggil ayahnya dengan teriakan seolah2 kami tinggal di hutan,"Papaaaaap….!" Untungnya teman2 kerja A’Bubun udah maklum, paling2 sedikit ngeledekin.
Ceritanya diperpendek aja kali ya… *mulai kumat penyakit males nulisnya* Yg jelas gambaran tahun pertamaku disini adalah sbb:
1. Semangat tinggal di Singapura ternyata nggak membuat aku lupa kampung halaman, aku selalu homesick, jadi mudik terus, tiap 3 bulan aku & anak2 berlibur di Bandung. Bahkan anak2 libur cuma 3 hari pun, kami mudik.
2. Aku juga jarang berkumpul dengan A’Bubun, sejak pindah ke Singapura, frekuensi melanglangbuananya makin tinggi, jadi dia pun selalu mendukung kalau aku & anak2 sering mudik, karena Dzaky lebih memilih ke Bandung daripada ikut papapnya ke negara2 tempatnya berdinas.
3. Enam bulan pertama aku selalu sibuk berburu sale, jadi banci mal deh. Alasannya sederhana semua barang yg aku suka disini harganya relatif murah dibanding dgn barang yg sama di Indonesia, padahal belum didiscount. Tapi sesudah 6 bulan, baru sadar, untuk apa aku panik kalau ada sale, karena ternyata sale ada terus sepanjang tahun.
4. Teman2 pertamaku disini adalah istri dari teman2 kerja A’Bubun yg orang Indonesia dan direlokasi kesini.
5. Tagihan telepon di rumahku selalu tinggi, karena aku sering sekali telepon ke tanah air menggunakan sambungan langsung, belum tahu yg namanya calling card.
6. Sering ngebela2in pergi jauh untuk mencoba makanan2 khas Singapura yg halal.
7. Sering ngejar2 barongsai. Maksudnya sengaja mencari pertunjukan barongsai, lama2 bosen juga, karena ternyata sering ada & berisiknya minta ampun.